PEKANBARU - Aroma hio yang pekat menyeruak di antara lautan manusia yang memadati sudut-sudut jalan Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, tatkala matahari paruh hari menyengat tanpa ampun. Di balik hiruk-pikuk ribuan pasang mata wisatawan lokal hingga mancanegara yang berdesakan, tersimpan jalinan sejarah abadi dari abad ke-19 tentang perantauan leluhur Tionghoa yang kini bermutasi menjadi magnet pariwisata internasional.
Cerita Prima Yohana Menggali Makna dan Filosofi di Balik Ritual Bakar Tongkang
08 Jul 2026
Bagi Putri Indonesia Riau 2026, Prima Yohana, kemegahan perayaan tahunan ini bukan sekadar panggung tontonan eksotis. Namun, sebuah ruang refleksi budaya yang menyisakan kesan emosional mendalam bagi perjalanan spiritual dan wawasannya sebagai representasi perempuan Nusantara. Rasa penasaran yang tinggi menuntun dara jelita ini untuk menjejakkan kaki pertama kalinya di kota pesisir tersebut guna membedah makna filosofis di balik kesakralan sebuah replika kapal kayu.

"Iya, ini pengalaman pertama saya menghadiri Festival Bakar Tongkang. Saya bahkan sempat mencari tahu mengapa tongkang itu bisa sangat sakral dan penting bagi masyarakat etnis Tionghoa di Bagansiapiapi. Ternyata, memang ada narasi sejarah keselamatan leluhur yang luar biasa di baliknya," tutur Prima Yohana, dalam sebuah bincang malam di Pekanbaru, Kamis (02/07/2026).
Baca juga: Kunjungan Wisatawan Asing ke Riau Melonjak 24,68 Persen
Melalui pengamatannya yang tajam, puncak perhelatan akbar yang digelar pada Rabu (1/7/2026). Menyajikan pemandangan unik yang menonjolkan totalitas spiritualitas warga setempat lewat simbol-simbol ritual bernilai fantastis. Salah satu daya tarik yang paling mencuri perhatian adalah tradisi pengumpulan dupa pusaka. Di mana terdapat jenis hio khusus yang nilainya menembus angka Rp25 juta per batang, berdampingan anggun dengan jajaran lilin merah raksasa setinggi manusia.

Bagi Prima Yohana, setiap perlengkapan ritual tersebut merepresentasikan wujud syukur kolektif dan bentuk penghormatan sakral kepada para dewa laut atas limpahan hasil tangkapan ikan yang menghidupi kota pesisir itu selama berabad-abad. Esensi sejati dari Festival Bakar Tongkang pun kian benderang tatkala prosesi arak-arakan replika kapal megah tersebut dimulai menyusuri rute-rute jalanan kota.
Baca juga: Selempang Puteri Indonesia dan Janji Setia Prima Yohana untuk Tanah Melayu
Tanpa sekat kasta maupun status sosial, ribuan warga lokal tumpah ruah saling bahu-membahu memikul beban tongkang sembari menggenggam dupa menyala dalam satu ritme kekompakan yang magis. Menyaksikan kerukunan tersebut, Prima mengaku takjub dengan nilai gotong royong yang tercermin erat sepanjang ritual, memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi mampu merekatkan hubungan persaudaraan multikultural secara alami.

Ketika prosesi mencapai puncaknya, detik-detik pembakaran replika tongkang menjadi klimaks visual yang paling membekas kuat di dalam memori sang finalis kecantikan. Kepulan asap hitam tebal yang membumbung tinggi menyelimuti angkasa justru mengaburkan sengatan cuaca terik, berganti menjadi sorak-sorai antusiasme massa yang menggetarkan sanubari.
"Ketika tongkang dibakar, asapnya banyak sekali, tapi jujur itu adalah hal paling seru yang saya saksikan, walau cuaca siang itu sangat panas, saya tetap merasa sangat gembira dan terkesima," kenangnya sembari menyunggingkan senyum.

Langkah kaki Prima di Bagansiapiapi tidak berhenti pada puncak ritual pembakaran saja. Ia turut memanfaatkan sisa waktu untuk melawat ke berbagai situs cagar budaya dan bangunan bersejarah yang tersebar di kota tersebut. Keberadaan destinasi historis ini mempertegas keyakinannya bahwa Rokan Hilir memiliki potensi wisata terpadu yang sangat masif dan layak diposisikan sebagai pilar utama promosi pariwisata nasional.
Menurutnya, perpaduan antara keunikan ritual kuno, kekayaan situs sejarah, dan kehangatan lanskap kota membuat Bagansiapiapi menyimpan sejuta cerita yang selalu menarik untuk dijelajahi para pelancong dunia. Kesan manis kunjungan tersebut kian lengkap berkat keramahtamahan serta kehangatan warga lokal yang menyambut setiap tamu asing dengan tangan terbuka layaknya keluarga sendiri.

Antusiasme tinggi dari masyarakat pesisir ini tidak hanya menciptakan rasa aman bagi para wisatawan, tetapi juga membangun atmosfer kekeluargaan yang begitu kental. Prima Yohana, merasakan betul bagaimana ketulusan penduduk setempat dalam merawat tradisi leluhur berbanding lurus dengan cara mereka menghargai setiap orang yang datang untuk mengapresiasi budaya mereka.

Putri Indonesia Riau 2026, Prima Yohana ketika hadir di Karisma Event Nusantara (KEN) Festival Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Rokan Hilir, Riau, pada Rabu (1/7/2026).
Menariknya, di tengah atmosfer kekhidmatan budaya tersebut, terselip sebuah pengalaman menggelitik nan jenaka yang sempat membuat sang Puteri terkejut saat tengah asyik mengitari museum daerah. Kehadiran figur publik di tengah kerumunan mendadak memicu kehebohan kecil ketika puluhan warga setempat tiba-tiba berbondong-bondong merubungnya demi mendapatkan kesempatan berfoto bersama.
"Dari situ saya melihat rasa kekeluargaan warga Bagansiapiapi sangat luar biasa; mereka membaur tanpa memandang kasta sosial, semua merasakan kebahagiaan yang sama," pungkasnya menutup kisah kenangan manis tersebut.
Streaming
Live streaming belum dimulai
Video akan tampil otomatis saat live dimulaiSaat itu pun tiba Tiada pertemuan tanpa perpisahan Terimakasih 🙏 Terimakasih telah menjadi lebih d...
Kementerian Pariwisata Pastikan Pendampingan dan Koordinasi Intensif Pasca Insiden Kapal Wisata di Labuan Bajo
Menteri Pariwisata Pastikan Kesiapan Bandara Soekarno-Hatta Layani Wisatawan Libur Nataru
Menpar Imbau Pengelola Destinasi Hadirkan Pelayanan Prima bagi Wisatawan saat Libur Nataru
Menpar: Kebijakan WFA Perkuat Pergerakan Wisatawan di Libur Nataru
Video Kreatif BBWI : Destinasi Wisata Unggulan Riau "BATU TILAM"
Video Kreatif BBWI Kuliner Historia Bumbu
Megi Irawan Di Kota Nyaman Tembilahan - Riau ! Kira-kira ada apa saja ya ?